Kamis, 19 September 2019

Pengalaman Bahasa

Assalamualaikum...

Hari ini adalah kali kedua saya membuat blok,saya akan menceritakan pengalaman bahasa sayaKetika saya masuk kuliah di IAIN Pontianak pada saat itu saya mendapat kan teman.Teman saya itu juga orang Sambas seperti saya tapi kami memiliki penyebutan kata yang berbeda,di saat saya mau tanya dia mau kemana lalu dia menjawab saya dia mau ke” dopor”.Lalau saya kesal sambil tersenyum karena kami kecamatan salatiga menyebut dapur ya tetap dengan kata “dapur”,tapi teman saya menyebutnya dengan kata “dopor”.Sehingga membuat saya tertawa dan kesal dengan bahasa teman saya.Dulu sebelum saya berteman dengan dia saya kira orang Sambas berbicara dengan gaya bahasa yang sama,ternyata itu semua salah cara bicara orang Sambas itu sangat beragam.
Pada waktu dua tahun yang lalu saya dan keluarga saya pergi ke Kalimantan Tengah tepatnya di daerah Lamandau,sesampai nya saya disana saya melihat adik dan sepupu saya sedang bermain di luar rumah tiba-tiba mereka melihat layang-layang yang sedang terputus di awan sepontan mereka teriak-teriak dengan bahasanya sendiri.
Terdengar oleh saya adik saya mengatakan “ade uwau putus di atas”.Lau terdengar jula oleh saya sepupu saya mengucapkan kata-kata “ada layang-layang putus”.lalu adik saya bertanya mengapa kamu bilang itu layang-layang,itu bukan layang-layang tapi iti”uwau”dengan bahasa Sambas adik saya mengatakan kata tersebut kepada sepupu saya yang seumuran dengan adik saya,lalu sepupu saya menjawab itu bukan “uwau”tapi itu adalah layang-layang kamu salah kata sepupu saya menyebut adik saya.Setelah mendengar  hal itu adik saya sepontan marah karena dia merasa layang-layang itu adalah “uwau” dalam bahasa Sambas dan sepupu saya pun merasa tidak terima karena didaerahnye menyebut layang-layang ya tetap”layang-layang”.Kami yang mendengar pembicaraan mereka pun menahan tertawa agar mereka tidak mengetahui saya ada di dekat tempat mereka berdua,bukan hanya masalah layang-layang adik saya dan sepupu saya pun berbicara selama satu minggu menggunakan bahasa masing-masing terkadang mereka berdua saling tidak mengerti,walaupun mereka berbeda bahasa tapi mereka tetap bermain bersama-sama.
Itu lah Indonesia terdiari atas suku,bangsa ,bahasa sehingga menjadi pemersatu bangsa dengan menggunakan satu bahasa yaitu Bahasa Indonesia.
Sekian blog dari saya,tunggu saja blog saya yang selanjutnya ya....

Kamis, 12 September 2019

Sang pemimpi dari desa

Assalamualaikum wr.wb
Hai,kawan-kawan perkenalkan nama saya Deny Rahmawati saya lahir di serunai 8 Desember 2000,saya adalah anak seorang petani di pelosok desa,nama ibu saya Misra dan bapak saya bernama Mujianto.
Waktu SD saya sekolah di SDN 11 serunai,lalau saya melanjutkan ke SMPN 1 Semparuk setelah itu saya melanjutkan sekolah di SMAN 1Salatiga,dan pada saat ini saya memiliki keinginan besar untuk melanjutkan kuliah di IAIN Pontianak.
Pada tanggal 1 juli 2019 itu menjadi hari yang membahagiakan bagi saya karena disaat itu saya lulus di IAIN Pontianak di prodi PAI,berita itu sangat menyenangkan bagi saya,karena dari kecil saya sudah bermimpi untuk bisa kuliah dan menjadi seorang pejuang pendidikan di desa saya.
Di desa saya termasuk wilayah yang kurang akan minat pendidikan karena kebanyakan orang tua di desa saya tidak bersekolah dan walau pun ada yang sekolah tetapi hanya tamatan SD,sehingga saya memiliki tekad kuat untuk sekolah setinggi mungkin dan menjadi seseorang yang dapat menjelas kan betapa pentingnya pendidikan yaitu saya ingin menjadi seorang guru yang dapat membimbing anak-anak petani di desa saya yang memiliki nasib seperti saya dan saya berkeinginan untuk memotivasi orangtua dan anak-anak yang belum paham betapa pentingnya pendidikan bagi seorang anak.
Itu lah mimpi anak seorang petani yang sudah bisa merasakan batapa indah nya menuntut ilmu,walupun merantau di tempat orang lain dan jauh dari orang tua.